Makan seperti orang Indonesia 1: (tidak) merasa sah

Karangan dalam Bahasa Inggris.

Tidak ada yang namanya masakan Indonesia. Yang ada masakan-masakan Indonesia. Kata jamak.

Negara ini, negara nusantara yang diapit dua benua, memiliki ratusan suku bangsa. Pemerintah secara resmi mengakui enam agama dan masih banyak agama lain yang tidak diakui. Adat istiadat kita juga dibubuhi pengaruh Arab, India, Tionghoa, Belanda and Portugal. Keanekaragaman tersebut adalah bukti bahwa kita memiliki berbagai macam budaya dan itu artinya kita juga memiliki berbagai macam cara memasak.

Masakan Jawa dan Sunda hampir sepenuhnya bebas dari pengaruh asing, walaupun kesenian Jawa dan Sunda sendiri memiliki pengaruh besar dari India. Masakan Jawa terkenal akan rasanya yang manis; itu disebabkan oleh penggunaan gula merah dan kecap manis yang melimpah ruah. Masakan Sunda terkenal akan rasanya yang ‘seperti tanah’ (saya tidak tahu cara menerjemahkan earthy); itu disebabkan oleh penggunaan sayur-mayur mentah.

Sebagai kota di pulau Sumatra, Palembang bisa dibilang aneh karena masakannya dipengaruhi masakan Jawa dan pengunaan rempah yang tergolong minim. Mereka juga menggunakan ikan air tawar dan ikan laut; di Indonesia, masakan-masakah daerah cenderung menggunakan salah satu saja.

Masakan Minangkabau dan Melayu terkenal akan kuah santan mereka yang berbumbu, kental dan penuh kolesterol. Mereka dipengaruhi oleh India dan Timur Tengah. Masakan Melayu juga dipengaruhi Tiongkok dan adalah kerabat masakan Peranakan, yang juga berakar di Tiongkok dan dengan mudah ditemukan di Singapura dan Malaysia.

Walaupun kita juga punya hidangan Peranakan, hidangan Tionghoa yang minim rempah jauh lebih terkenal. Mereka lebih mirip dengan masakan Tionghoa yang ‘asli’.

Masakan Batak terkenal akan andaliman, rempah yang membuat lidah kebas dan kerabat dengan merica sichuan dan hidangan yang menggunakan isi perut sapi sebagai bahan. Sebagian orang Batak Kristen juga terkenal doyan memakan daging anjing.

Masakan Minahasa memiliki reputasi yang lebih ‘bejat’ karena, selain reputasi mereka sebagai salah satu masakan paling pedas di Indonesia, mereka juga menggunakan daging-daging ‘eksotis’ seperti daging kelelawar, tikus hutan, ular, monyet dan, tentu saja, anjing.

Bisa dibilang masakan Betawi adalah masakan yang paling ‘blasteran’ di Indonesia. Masakannya dipengaruhi oleh berbagai budaya daerah dan budaya asing. Masakan Betawi mencakupi semua budaya-budaya asing yang saya sebutkan sebelumnya! Karena kecangkupan luas itulah saya bingung apa yang membuat makanan Betawi khas. Entah kenapa, saya mengaitkan hidangan Betawi dengan wangi sereh, walaupun jelas tidak semuanya menggunakan bahan tersebut.

Saya hanya baru mencicipi segelintir hidangan-hidangan Indonesia. Tetapi, pengalaman sempit saya sudah menyingkap betapa beragamnya masakan Indonesia; ‘penjelajahan’ saya masih belum dimulai. Bahkan saya yakin orang-orang yang seumur-umur belum pernah makan makanan Indonesia akan mengakui keanekaragamannya hanya dengan membaca sumber-sumber daring terpercaya.

Keanekaragaman tersebut membuktikan bahwa Indonesia bisa memuaskan berbagai macam selera lidah. Dari segi ketenaran, makanan kita bisa saja dengan mudah mengalahkan makanan dari Jepang dan Korea Selatan, dua negara yang terkenal homogen. Kita bisa saja menjadi salah satu pemain kuliner utama di tingkat dunia.

Sayangnya, dunia nyata berkata lain.

Ketenaran dapat diraih dengan embaran yang penuh percaya diri. Embaran tersebut harus dilaksanakan dengan kukuh dan kita harus percaya dengan kata-kata kita sendiri. Saya yang canggungnya minta ampun pun tahu soal itu!

Embaran kita terlalu lemah gemulai. Kita pemalas dan tidak percaya ucapan kita sendiri. Kita malu akan keberadaan diri kita sebagai manusia berbudaya. Kita merasa ‘sah’ hanya saat orang asing memuji kebudayaan kita.

Itulah sebabnya kenapa kita bisa menemukan banyak Youtuber asing yang membuat video tentang makanan Indonesia.*

Saya pernah bertemu orang Indonesia yang bangga akan masakan bangsa sendiri. Tapi, sebagian besar dari mereka hanya bisa menikmati hidangan Indonesia; bahkan, sebagian dari mereka hanya menyukai hidangan dari suku mereka sendiri.

Pada dasarnya, mereka bagaikan katak dalam tempurung.

.

.

*Saya seolah-olah mengatakan bahwa kehadiran Youtuber asing (entah kenapa, banyak dari mereka adalah orang Korea) yang mencari nafkah dengan makan makanan Indonesia adalah hal yang buruk.

Saya tidak merasa begitu. Bahkan, saya merasa kagum dengan sebagian dari mereka. Saya hanya ingin menegaskan bahwa orang Indonesia masih mendambakan pengakuan dari luar bak remaja yang tidak percaya diri.

Ada juga kekhawatiran kalau orang asing memanfaatkan ketidakpercayaan diri kita. Saya merasa kekhawatiran itu sah. Tapi, hanya karena sah, bukan berarti semuanya memang melakukan hal itu!

Jika mau menuduh mereka secara terang-terangan, usahakan kau punya buktinya. Perasaan kau yang dodol itu tidak bisa digunakan sebagai bukti!

.

.

.

.

.

Donate to this deadbeat, preachy blogger on Patreon.

 

Author: The Stammering Dunce

I write blogs. I love to act smarter than I really am and I pretend that my opinions are of any significance. Support me on Patreon: https://www.patreon.com/user?u=9674796

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: