Pelajaran-pelajaran yang saya ambil dari UN

Pelajaran pertama: Sekedar ‘belajar’ itu percuma.

Pendidikan formal menuntut kita ‘belajar’ hanya dengan sekadar menghafal dan mengharapkan nilai dan masa depan cerah sebagai imbalan. Tuntutan tersebut semakin menguat saat kita dihantui bayangan UN yang tentu saja ampuh membunuh keinginan siswa untuk menimba ilmu.

Idealnya, kita juga harus belajar berpikir kritis agar kita tidak mudah terhasut oleh informasi yang kita terima. Kita juga harus belajar karena kita suka menimba ilmu tanpa mengharapkan imbalan; keikhlasan tersebutlah yang memperluas cakrawala kita.

Walaupun kehidupan kuliah jauh lebih menuntut dan gelar tidak akan pernah bisa menjamin masa depan cerah, saya lebih suka belajar di universitas.

Memang betul, tuntutan nilai masih ada. Tetapi, karena saya yang memilih jurusan sendiri, sebagian besar mata kuliah cocok dengan minat saya. Ditambah lagi, kita belajar tidak dengan sekedar menghafal, tetapi juga menelaah setiap embaran yang kita terima.

Penerapan pendidikan tinggi memang jauh dari sempurna dan tidak luput dari masalah indoktrinasi. Pendidikan tinggi juga bersifat formal sehingga tidak cocok bagi semua orang.

Tetapi, dibandingkan pendidikan tingkat dasar dan menengah, pendidikan tinggi jauh lebih berhasil dalam menyediakan wadah bagi mereka yang ingin belajar dengan sepenuh hati.

Pelajaran kedua: Di Indonesia, kejujuran adalah suatu kelemahan.

Di UN SMP dan SMA, saya bisa dibilang adalah satu dari segelintir murid yang tidak mau menyontek. Karena saya tinggal Indonesia, negara yang terkenal akan budi pekertinya, banyak orang di sekitar menghina saya.

Baik murid dan orang tua saya sendiri, mereka menganggap saya sok pintar dan sok suci. Guru-guru dengan bersedia tutup mata tentang kecurangan yang dilakukan anak-anak didik mereka.

Saya berhasil lulus UN SMP dan SMA dengan nilai rata-rata yang lumayan bagus dan saya raih itu tanpa melakukan kecurangan. Nilai-nilai itu adalah murni hasil jerih payah saya.

Tetapi, hingga saat ini, saya masih belum menerima pujian akan keberhasilan tersebut. Bahkan, masih ada yang bilang saya lulus karena keberuntungan semata. Saking mereka mementingkan hasil akhir, mereka dengan gampangnya memuliakan kecurangan dan merendahkan kejujuran.

Jika mereka tidak memuliakan kecurangan, mereka tidak akan melontarkan hinaan dari mulut comberan mereka.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kemuliaan harus dilakukan dengan ikhlas, tanpa rasa riya. Selain membohongi diri sendiri dan orang lain, rasa riya juga membuat kita memiliki harapan palsu akan sekeliling kita.

Dengan polosnya, kita akan mengharapkan pujian dari orang lain. Jika kita beruntung tinggal di negara-negara bejat seperti Indonesia, yang kita akan dapatkan hanyalah mulut-mulut comberan penuh celaan. Yang ada kita makan hati.

Namanya juga manusia, walaupun saya tidak mengharapkan pujian (dan saya sudah tahu betapa bobroknya akhlak orang Indonesia), hinaan itu tetap saja menyakitkan.

Bayangkan jika saya mengharapkan pujian. Saya yakin saya akan menjadi pribadi yang jauh lebih sinis daripada sekarang.

Author: The Stammering Dunce

I write blogs. I love to act smarter than I really am and I pretend that my opinions are of any significance. Support me on Patreon: https://www.patreon.com/user?u=9674796

One thought on “Pelajaran-pelajaran yang saya ambil dari UN”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: