Menjadi orang Indonesia 2

Di Facebook, banyak yang mengatakan bahwa kita seharusnya menghargai tindakan pemerintah dalam mengatasi pandemik yang sekarang masih terjadi; menurut mereka, pemerintah sudah berupaya sekeras mungkin dan tidak ada satupun negara yang lihai mengatasi kegentingan ini.

Tentu saja, hanya orang goblok yang percaya itu.

Pertama, bukannya mereka waspada dan melakukan pencegahan, pemerintah malah bongkak.

Dibilangnya kita adalah negara yang sudah mampu menghadapi wabah, walaupun jelas-jelas pelayanan kesehatan kita selalu reyot sejak zaman kuda gigit besi. Sejak kapan sih negara kita jagoan di bidang kesehatan?

Dibilangnya juga kita adalah negara yang diberkati oleh Yang Maha Esa, seolah-olah kita adalah satu-satunya negara yang pantas menerima berkah. Kok bisa-bisanya bilang kita, negara yang penuh dengan orang-orang biadab, pantas diberkati?

Jangan lupa, pada bulan Februari lalu, pemerintah menyiapkan dana 72 miliar untuk para influencer luar negeri agar mereka mempercantik citra Indonesia, seolah-olah pemerintah sudah menyerah sebelum wabahnya datang menyerang.

Kedua, sudah jelas ada negara-negara yang jago mengatasi pandemik ini.

Di Korea Selatan, virusnya sudah mewabah sejak akhir bulan Januari dan angka kematiannya 211. Di Malaysia, sudah mewabah sejak akhir Januari, angka kematiannya 70. Di Selandia Baru, sudah mewabah sejak akhir Februari, angka kematiannya 4. Di Singapura, sudah mewabah sejak akhir Januari, angka kematiannya 7.

Taiwan adalah negara yang secara geografis dekat dengan Tiongkok dan memiliki banyak penerbangan dari dan ke Tiongkok. Tetapi, angka kematiannya hanya 6. Taiwan sudah melakukan pencegahan sejak bulan Desember; sangking cepatnya mereka bertindak, Taiwan tidak perlu melakukan lockdown! Kalau saja mereka lamban, kemungkinan penyakitnya sudah mewabah dan memakan banyak korban sebelum tahun baru.

Indonesia? Baru mewabah sejak awal Maret, angka kematiannya 306, lebih tinggi daripada angka orang yang sembuh.

Seseorang ‘menyanggah’ pernyataan saya dengan mengingatkan bahwa kita tinggal di Indonesia dan cara-cara luar negeri belum tentu saja cocok untuk kita.

Walaupun itu memang betul, permasalahannya adalah cara kita menanggapi pandemik adalah dengan bersombong ria dan cara luar negeri adalah dengan bersiap siaga! ‘Sanggahan’ itu hanyalah ocehan orang kolot berotak udang dan sama sekali tidak berdasarkan akal sehat.


 

Kita sering mengecam pemerintah yang kita anggap bobrok. Tetapi, setiap kali mereka dikecam orang luar, mereka malah kita bela! Saking maunya kita bangga sebagai orang Indonesia, kita rela membela negara kita di panggung dunia, walaupun jelas-jelas negara kita yang salah!

Jika kita ingin bangga akan negara sendiri, bukankah kita seharusnya berpendirian teguh dan dengan tegas meminta pertanggungjawaban dari pemerintah dan sesama warga negara? Bukankah kita seharusnya malu mengelu-elukan yang salah?

Setiap kali kita disarankan untuk menggunakan cara-cara baru, kita selalu bilang cara-cara tersebut hanya cocok diterapkan di negara-negara lain dan menganggap cara-cara kita yang gunakan cocok untuk negara kita, walaupun jelas-jelas banyak cara kita yang terbukti keliru dan hanya memperkeruh masalah.

Kita juga menganggap cara luar negeri juga akan menggerus jati diri bangsa.

Jika kita memang khawatir tentang kekhasan bangsa, mengapa kita tidak melestarikan warisan budaya bangsa dengan lebih ulet? Mengapa kita harus mempertahankan cara-cara berkehidupan kita yang jelas-jelas mengekang kemajuan bangsa?

Kegoblokan, berpendirian lemah dan berpikiran tertutup sudah sangat mendarah daging di negara kita, sampai-sampai sebagian dari kita menganggap watak tersebut adalah syarat-syarat yang harus kita penuhi untuk menjadi orang Indonesia.


 

Ada satu upaya pemerintah yang patut dipuji: menindak secara hukum mereka yang mengusir pekerja medis dari tempat kos-kosan dan menolak pemakaman para korban di kampung mereka.

Jika tindakan hukumnya benar-benar dilaksanakan, saya tidak yakin semua orang-orang itu sadar akan kekhilafan mereka. Tetapi, saya berharap mereka semua dicap sebagai manusia hina, walaupun hanya sementara.

 

.

.

.

.

.

Donate to this deadbeat, preachy blogger on Patreon.

 

 

 

 

 

 

 

Author: The Stammering Dunce

I write blogs. I love to act smarter than I really am and I pretend that my opinions are of any significance. Support me on Patreon: https://www.patreon.com/user?u=9674796

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: