Menjadi orang Indonesia

Saya lahir di Indonesia. Bahasa pertama yang saya pelajari adalah Bahasa Indonesia. Kedua orangtua saya WNI dan ibu saya penutur Bahasa Sunda. Sebelum memasuki jenjang perguruan tinggi, saya hanya menghadiri satu sekolah mancanegara; itupun saya masih dikelilingi murid-murid WNI lainnya dan sebagian kelas masih menggunakan pengantar Bahasa Indonesia. Di SMA, saya dikelilingi oleh murid-murid yang berbicara dengan berbagai macam logat daerah. Saya mulai banyak menjalin hubungan dengan orang-orang asing saat saya mulai aktif di jejaring sosial, saat saya berumur delapan belas tahun.

Tetapi, entah kenapa, keindonesiaan saya baru benar-benar mencuat saat saya sudah dewasa.

Saya tumbuh besar menyukai masakan luar dan memandang rendah masakan Indonesia yang saya anggap ‘kayak jamu tapi yang dimakan’. Saya lebih menghargai karya-karya seni yang kebarat-baratan daripada yang berkhas Indonesia. Saya berharap untuk meninggalkan Indonesian untuk selamanya. Saya merasa kebarat-baratan.

Tentu saja, saya sudah berubah.

Saya makan masakan dan menonton pertunjukan kesenian adat-istiadat Indonesia dengan senang hati. Keinginan saya untuk meninggalkan Indonesia dan sifat kebarat-baratan saya juga jauh berkurang.

Saya masih tidak tahu mengapa saya yang dulu seperti itu.

Mungkin saja karena masa kecil saya tidak terpapar oleh hal-hal yang berbau Indonesia. Mungkin saja karena ibu saya yang entah kenapa tidak mengajari anak-anaknya belajar bahasa daerah. Mungkin juga karena saya sering makanan yang tergolong asing.

Tetapi, jika dipikir-pikir, yang saya sebutkan di atas juga dialami orang lain; sepengetahuan saya, mereka tidak pernah merasa asing di negara sendiri. Jati diri mereka selalu Indonesia.

Saya tidak kebingungan tentang perubahan diri saya.

Tentu saja, berjalannya umur selalu berbarengan dengan meluasnya cakrawala. Saya sudah pasti semakin lebih banyak terpapar oleh hal-hal yang kebaratan-baratan. Tetapi, pada saat yang bersamaan, saya juga lebih sering terpapar oleh hal-hal yang berbau Indonesia.

Semakin sering saya mencicipi berbagai jenis keju dan roti Eropa, semakin sering juga saya mencicipi berbagai jenis gulai dan ‘salad-salad’ Indonesia seperti gado-gado dan urap. Semakin sering saya mendengar musik barat, semakin sering juga saya mendengar musik khas Indonesia seperti lagu-lagu daerah dan karya para pemusik seperti Guruh Soekarno Putra dan Kua Etnika. Semakin saya mendengar tentang kasus-kasus SARA di negara-negara barat, semakin saya sadar bahwa kehidupan antar suku bangsa relatif damai dan penuh keselarasan menurut patokan mancanegara.

Saya akhirnya dapat membandingkan Indonesia dengan dunia barat secara saksama dan perbandingan itu membuktikan bahwa keindonesiaan adalah sesuatu dengan kekhasan tinggi dan seluk-beluk yang membuatnya mustahil diringkas

Sebagian adat-istiadat kita jelas-jelas adalah hasil berbagai pengaruh asing, kebudayaan kita memiliki keanekaragaman yang hanya bisa disaingi oleh India, Papua Nugini dan negara-negara Afrika tertentu dan Indonesia adalah negara bermayoritas Muslim yang masih mendayagunakan perlambangan Hindu sebagai perlambangan bangsa. Bagaimana bisa diringkas?

Indonesia adalah negara yang bisa menonjol dengan sendirinya. Jika warga-warganya mau merangkul keindonesiaan dengan tulus, kita akan lebih piawai mencetuskan gagasan yang mutakhir dan alhasil, membuat kita lebih sering berperan-serta dalam perkembangan dunia.

Jelas saya tidak mentah-mentah memuji semua yang ada di dalam negeri.

Masakan kita masih terlalu tergantung kepada minyak sawit dan nasi putih, kebudayaan pop sama sekali tidak berbobot dari segi estetika dan keaslian, ketergantungan kepada pola pikir yang kolot menghalangi kita untuk berpikir lebih jernih. Ditambah lagi, hubungan antar kelompok beragama dan ras tidak sebagus yang digembar-gemborkan.

Berlawanan dengan nalar, semakin saya mengetahui kejelekan bangsa, semakin erat saya memeluk jati diri Indonesia saya.

Tidak seperti dulu, sekarang saya tidak lagi gandrung kepada kesempurnaan yang mutlak, sesuatu yang hanya ada di dunia dongeng; menampilkannya sebagai kebenaran adalah salah satu bentuk pendustaan. Ketidaksempurnaan tidak pernah merasa terpaksa untuk mendusta; alhasil, ketulenan sisi baik yang ditampilkan jauh lebih terjamin.

Nasionalisme buta menjelma karena warga merasa negara mereka sepenuhnya rupawan. Tapi, menurut pengalaman pribadi saya, merekapun tidak tahu bentuk kerupawanannya.

Karena pandangan mereka yang hitam-putih, mereka tidak sadar bahwa kehidupan dipenuhi oleh warna abu-abu yang sulit ditembusi. Mereka yakin stereotip seratus persen sahih. Kecuali anda menganggap suka berprasangka sebagai watak yang terpuji, anda tentunya sadar stereotip hanya akan selalu menyesatkan anda dan menyeret anda ke alam gelap gulita yang di mana anda akan kesulitan meloloskan diri.

Saya memang terkesan lebay. Tetapi, itulah yang saya alami sendiri.

Sebenarnya riwayat hidup saya di tulisan ini kurang lengkap. Saya dulu memang tidak suka semua yang berbau Indonesia. Tetapi, pada saat-saat tertentu, saya juga seorang nasionalis buta.

Saya tidak peduli apa itu keindonesiaan yang sebenarnya. Saya hanya peduli dengan cap Indonesia. Apapun yang bercap luar negeri saya anggap rendah, walaupun di dalam hati saya masih lebih suka yang buatan asing dan tidak mau mengakui itu. Bahkan saya pernah beranggapan kita harus selalu membela negara, meskipun negara kita jelas-jelas salah.

Nasionalis, tapi tidak tahu apa-apa tentang negara sendiri dan tidak mau menghormati warisan nenek moyang.

Saya akui cerita saya membingungkan dan sulit dipercaya. Ditambah lagi, saya tidak pandai membujuk orang lain agar mempercayai perkataan saya. Jadi, saya hanya bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan berikut:

Mengapa anda menganggap diri anda orang Indonesia? Jangan jawab ‘kewarganegaraan’ dan/atau ‘lahir dan besar di sini’. Terlalu gampang.

Apa saja yang anda sukai dan benci dari Indonesia? Apakah anda mengalami atau mengamatinya secara langsung? Atau apakah mereka sesuatu yang anda sekedar dengar dan baca alias kabar angin?

Saya menganggap diri saya Indonesia karena, sejelek-jeleknya negeri ini, saya sudah terikat secara emosi. Walaupun saya akhirnya tinggal di luar negeri untuk selamanya, saya tidak yakin keindonesiaan saya akan pernah hilang.

Anda sudah tahu apa yang saya sukai dan benci dari Indonesia dan mereka semua saya alami dan amati secara langsung. Sebagian besar cerita-cerita apik tentang Indonesia yang diembarkan orangtua, sekolah dan media hanyalah igauan semata; keapikannya ternyata terlalu dibesar-besarkan atau bahkan tidak pernah ada dari dulu.

Intinya adalah jati diri kebangsaan harus patut direnungkan.

Kita memang selalu diserukan oleh tokoh-tokoh masyarakat tertentu untuk merenungkan jati diri kebangsaan bersama-sama. Tetapi, entah kuping saya yang bermasalah, saya tidak pernah mendengar mereka mengajak kita untuk merenungkan sebagai pribadi-pribadi tersendiri.

Suatu kelompok sudah pasti terdiri atas ‘anggota’ yang berbagai rupa. Menurut saya aneh jika sebuah perenungan yang melibatkan khalayak tidak dilakukan pada tingkat perorangan.

.

.

.

.

.

Donate to this deadbeat, preachy blogger on Patreon.

 

 

 

 

 

 

 

 

Author: The Stammering Dunce

I write blogs. I love to act smarter than I really am and I pretend that my opinions are of any significance. Support me on Patreon: https://www.patreon.com/user?u=9674796

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: