Anak IPA vs Anak IPS

Saya lulus SMA sepuluh tahun yang lalu.

Hingga hari ini, masih terngiang-ngiang di pikiran saya celaan yang selalu diarahkan kepada siswa-siswa SMA yang memilih jurusan IPS. Mereka selalu bilang anak-anak IPS itu bodoh dan pemalas karena mata pelajaran yang pelajari dianggap sepele dan tidak bermutu.

Saya tidak tahu apakah selama satu dasawarsa terakhir ini aib tersebut telah menyusut di sekolah-sekolah. Yang sudah pasti, aib itu masih merekat di pikiran-pikiran orang-orang jauh lebih tua.

Sebagai anak jurusan IPS sendiri, celaan tersebut tentu saja saya masukkan ke hati. Percaya tidak percaya, anak-anak IPS juga manusia; bukan hanya anak-anak IPA saja yang punya perasaan.

Tetapi, celaan tersebut juga menjengkelkan karena menggunakan penalaran yang buruk… atau, jika saya tidak mau repot-repot sopan, orang-orang itu pada goblok semua.

Saya masih tidak mengerti mengapa ilmu sosial selalu dianggap enteng. Sesusah-susahnya ilmu alam, pokok yang dipelajari selalu berwujud dan dapat diukur dengan tepat.

Di ilmu sosial, pokok yang dipelajari cenderung bersifat tanwujud dan pengukuran harus dilakukan dengan hati-hati agar sampel yang digunakan benar-benar representatif. Di ilmu-ilmu humaniora seperti filsafat, pokok yang dipelajari sepenuhnya bersifat tanwujud dan pengukuran mustahil diterapkan. Kita harus jauh lebih bisa mengendalikan prasangka kita sendiri.

(Catatan: saya juga harus menyebut ilmu-ilmu humaniora karena mereka dan ilmu-ilmu sosial selalu merintangi jalan masing-masing. Saya sadari itu saat saya masih kuliah kajian media)

Semua orang  tahu manfaat yang diberikan ilmu-ilmu alam kepada umat manusia; ilmu-ilmu terapan seperti ilmu kedokteran dan ilmu teknik tidak akan pernah ada tanpa mereka. Tetapi, masih banyak dari kita yang menyangsikan manfaat dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Tanpa mereka, kita tidak akan bertanya tentang mengapa manusia memiliki perilaku tertentu dan mungkin kita tidak akan sadar bahwa perilaku-perilaku yang kita tolerir atau junjung tinggi ternyata adalah penyakit-penyakit masyarakat yang menghalangi kita untuk menjadi lebih bernalar dan beradab.

Tanpa mereka, kita juga tidak akan mempertimbangkan dampak-dampak buruk sosial yang kemungkinan akan terjadi dengan berkembangnya IPTEK. Sebagian pakar IPTEK cenderung tidak mau memikirkan dampak-dampak sosial dari hasil kerja mereka. Antara itu atau mereka menganggap pengetahuan mereka sudah memadai untuk memahami watak manusia.

Tentu saja itu pemikiran yang tolol. Neil deGrasse Tyson, ilmuwan perbintangan terkemuka, adalah contoh yang bisa menyanggah keyakinan itu.

Dia pernah memicu prahara dengan menunjukan angka kematian penembakan massal yang jauh lebih kecil daripada angka-angka kematian yang disebabkan oleh kesalahan medis, kecelakaan mobil dan penembakan perorangan; dia menuding orang-orang Amerika tidak bisa berpikir jernih karena terlalu gandrung kepada masalah yang relatif kecil dari segi bilangan.

Saking gandrungnya dia kepada angka, dia menjadi tidak peka dan alhasil membuatnya meremehken penyakit yang jelas-jelas mematikan, tidak menyadari bahwa penyakit kemasyarakatan selalu melibatkan banyak orang (namanya saja sudah jelas), ‘secuil’ apapun penyakit itu.

Entah dia benar-benar atau pura-pura tidak tahu, banyak warga Amerika berapi-api  karena lembaga-lembaga berkuasa selalu mencari-cari alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Berbeda dengan penyakit-penyakit lainnya yang masih digubris.

Saya juga harus mengemukakan bahwa para pakar IPTEK sendiri terkesan tidak tahu bahwa bidang yang mereka tekuni dikembangkan untuk menyokong kehidupan manusia. Kalau mereka tahu, mereka tidak akan menciptakan senjata-senjata seperti bom nuklir dan pesawat nirawak yang dilengkapi peluru kendali dan mereka tidak akan menciptakan aplikasi yang melanggar kehidupan pribadi orang lain.

Mungkin saja mereka menganggap penganiayaan adalah cara yang tepat untuk menyunjung tinggi rasa kemanusiaan.

Saya hampir lupa bicara tentang ‘kepintaran’ anak-anak IPA dan alasan mereka memilih jurusan tersebut.

Hingga saat ini, saya masih belum menemukan bukti bahwa semua anak-anak IPA jauh lebih pintar daripada anak-anak IPS. Yang ada malah semakin mereka menyombongkan jurusan kesayangan mereka, semakin tinggi kegoblokan mereka.

Mereka terkesan pintar karena selain mereka diharuskan mengikuti ujian agar bisa lolos masuk jurusan IPA, mereka juga memiliki hak istimewa asal-asalan yang memperbolehkan mereka untuk mengambil jurusan apapun yang mereka inginkan di perguruan tinggi.

Mungkin juga karena mayoritas orang Indonesia sudah dicuci otak kita sejak kita untuk selalu menganggap orang lain pintar hanya karena mereka anak IPA.

Jika saya bertanya mengapa orang-orang itu memilih menjadi anak-anak IPA, saya yakin sebagian besar tidak menjawab ‘cinta akan ilmu alam’. Saya yakin mereka akan menjawab ‘terbukanya pintu-pintu perguruan tinggi dan lapangan kerja’ atau mereka ‘ingin menjadi pintar’.

Ingin menjadi pintar. Karena kesombongan yang saya sebutkan beberapa paragraf sebelumnya, saya yakin sebenarnya mereka itu hanya ingin sekedar terlihat pintar. Di dalam hati, mereka sebenarnya sadar akan ketololan mereka sendiri. Mereka memilih jurusan IPA (dan kepribadian yang sombong) karena mereka ingin menutupi aib. Orang-orang lain yang bodoh tentu saja akan tertipu oleh muslihat tersebut.

Sebenarnya sejak kecil saya sudah tertarik dengan ilmu-ilmu alam. Bahkan, bisa dibilang, kecintaan saya akan ilmu-ilmu sosial lahir saat saya hampir lulus SMP.

Saya memilih jurusan IPS karena saya pendidikan IPA di Indonesia sangatlah bobrok. Agar bisa memahami ilmunya, kita harus melakukan penerapan di laboratorium dan tidak hanya sekedar menghafal. Seumur-umur saya belajar di Indonesia, saya hanya mengalami penerapan laboratorium di sekolah internasional.

Tentu saja, pendidikan IPS di Indonesia juga bobrok. Tetapi, pendidikan IPS tidak memerlukan penerapan di laboratorium. Alhasil, kegondokan saya saat belajar IPS tidak terlalu menonjol dan saya masih agak bergidik tentang kemungkinan saya belajar IPA lagi secara formal.

Kecintaan pada ilmu-ilmu alam masih menjangkiti saya hingga hari ini. Saya membaca karya-karya tulisan dan menonton video-video berbau IPA karena saya sungguh-sungguh tertarik dengan tentang tatanan alam semesta dan kedudukan umat manusia di dalamnya. Saya tidak mengharapkan imbalan.

Dan karena itulah saya jauh lebih berpengetahuan di IPA daripada mereka-mereka yang belajar karena rasa gengsi.

Mereka gampang dikibulin berita-berita bohong; semakin gila beritanya, semakin mereka percaya.

Mereka gampang dikibulin ocehan tentang ‘pengobatan alternatif’.

Mereka tidak tahu bahwa, jika kita bicara tentang makanan dan obat-obatan, kata ‘alami’ sangatlah susah diartikan dengan tepat.

Mereka tidak tahu cara kerja vaksin.

Mereka tidak tahu bahwa gangguan kejiwaan hanya bisa disembuhkan secara medis dan tidak bisa disembuhkan dengan ‘kekuatan pikiran’.

Mereka masih beranggapan teori adalah hasil dari main tebak-tebakan.

Mereka masih beranggapan kisah pribadi dapat digunakan sebagai bukti ilmiah.

Mereka masih beranggapan fakta-fakta ilmiah selalu bersifat mutlak.

Percuma negara berjubel dengan anak-anak IPA, kalau masih banyak di antara kita yang menganut ‘ilmu-ilmu’ semu (pseudosciences) dan berpikir seperti kera-kera yang belum berevolusi.

.

.

.

.

.

Donate to this deadbeat, preachy blogger on Patreon.

 

 

 

 

 

 

 

 

Author: The Stammering Dunce

I write blogs. I love to act smarter than I really am and I pretend that my opinions are of any significance. Support me on Patreon: https://www.patreon.com/user?u=9674796

One thought on “Anak IPA vs Anak IPS”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: