Ringkasan sudut pandang umat Muslim Indonesia

Berdasarkan tugas kuliah saya. Versi Bahasa Inggris dapat dibaca di tautan ini. Entah kenapa, saya lupa menerbitkan artikel Bahasa Indonesia.

Ahok dituntut dua tahun penjara karena melakukan penistaan agama yang tidak pernah beliau lakukan. Habib Rizieq, yang dengan lantang dan jelas menghina agama Kristen dan menginginkan semua warga Indonesia untuk tunduk kepada hukum Syariah, masih belum tersentuh UU penistaan agama. Bahkan, Ahok dianggap sebagai pemecah kesatuan bangsa dan Rizieq sebagai pemersatu oleh sebagian umat Muslim.

Sayangnya, ketidakadilan ini bukanlah hal yang mengejutkan. Pertama, Islam adalah agama yang besar di Indonesia, dianut oleh 87.18% penduduk; mudah bagi kelompok mayoritas untuk berkuasa. Saya mendapatkan data tersebut dari sensus penduduk yang diterbikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010. agama-agama minoritas juga disebutkan. Tetapi, keseimbangan dalam pengkajian agama tidak selalu dipegang.

Kajian statistik menyeluruh Indonesia yang diterbitkan BPS pada tahun 2016 menyebutkan jumlah sekolah, guru dan murid Madrasah yang dikelola pemerintah dan juga jumlah warga yang melaksanakan ibadah Haji. Begitu juga dengan kajian terbitan tahun 2015 dan 2014. Kajian-kajian tersebut dilaksanakan untuk memahami berbagai segi kehidupan negara, termasuk ‘perkembangan sosial-demografi’, seperti tertera pada halaman pendahuluan setiap kajian tersebut.

Kajian demografi seharusnya meliputi semua kelompok-kelompok, bukan hanya kelompok mayoritas. Umat beragama lain tidak disebut sama sekali sedang umat Islam dikaji lebih dalam. Pemerintah Indonesia terkesan menganaktirikan agama-agama minoritas. Mungkin saya picik karena memermasalahkan kajian statistik. Tetapi, sifat ketidakberimbangan tersebut juga ditunjukan dalam tata kerja pemerintahan.

Dari namanya saja, kementerian agama (kemenag) seharusnya mengayomi semua umat beragama. Tetapi, pada kenyataannya, hanya umat Islam yang dilayani. Kementerian masih dikuasai oleh orang-orang Muslim, termasuk jabatan menteri. Setidaknya, jika mereka hanya mengayomi umat Islam, nama kementerian agama seharusnya diubah menjadi kementerian agama Islam. Tidak perlu bermuslihat.

Tentu saja, saya tidak bisa menuduh pemerintah Indonesia terlalu menganakemaskan Islam. Selain Islam, agama Protestan, Katolik, Buda, Hindu dan Konghucu juga diakui secara resmi. Kemenag, walaupun dikuasai orang-orang Muslim, masih memiliki badan-badan yang mewakili umat beragama lain. Universitas-universitas negeri beragama non-Islam masih dapat ditemukan. Jabatan-jabatan menteri masih bisa dipegang oleh penganut agama-agama lain. Walaupun ada kecenderungan untuk tidak berimbang dan mencampur-aduk agama dengan politik, pemerintah Indonesia masih belum dicemari paham Islamisme.

Saya juga yakin bahwa permasalahan juga dapat ditemukan di masyarakat. Di masa pasca-Soeharto, Syahrin Harahap melihat bahwa rakyat Indonesia memiliki tiga citra yang berbeda: citra keterbukaan dan kerhamonisan, citra sekuler, liberal dan kebarat-baratan dan citra konflik umat beragama dan bersifat terror (2006, p. 32-43).

Pengamatan tersebut menunjukan bahwa suatu bangsa, terutama bangsa yang sangat beragam seperti Indonesia, selalu terdiri atas berbagai macam kelompok yang berbeda. Tetapi, pada saat yang bersamaan, citra-citra yang beragam tersebut juga bersifat hitam-putih.

Kalangan liberal dianggap sebagai kalangan yang tidak mengutamakan keharmonisan, walaupun tokoh-tokoh liberal seperti Ulil Abshar Abdalla mendukung kaum Ahmadiyah. Kita juga lupa menyebutkan bahwa, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Habieb Rizieq dipuja oleh para warga negara yang mengaku mencintai keharmonisan. Topeng yang kita gunakan hanyalah alat untuk bermuslihat.

Rasionalitas, seperti yang dipeluk oleh sebagian para pemikir Islam, dianggap sebagai hal yang cenderung kebarat-baratan. Anggapan itu membuat rasionalitas terkesan bertentangan dengan budaya timur yang dipeluk oleh sebagian besar umat Islam.

Rasionalitas juga tidak dianggap sebagai salah satu unsur citra keterbukaan. Pemikiran rasional hanya dianggap sebagai sesuatu yang menjauhkan kita dari agama, bukan sebagai faktor pendorong keterbukaan. Akibatnya, umat Islam akan melihat pemikiran rasional sebagai sesuatu yang tidak pantas dipeluk.

Kita juga lupa bahwa kebudayaan barat sangatlah digemari di Indonesia, bahkan di antara warga-warga yang menentang liberalisme. Budaya pop Islami Indonesia-pun sangat kebarat-baratan, dengan komersialisme dan hedonisme yang mengundang kritikan dari kalangan-kalangan konservatif (Saluz 2009).

Ditambah lagi, banyak para penceramah yang memiliki derajat sebagai selebritas. Setiap ceramah yang mereka berikan selalu menghasilkan uang yang berlimpah. Mereka juga sering muncul di berbagai macam iklan. Mereka sangat mirip dengan para televangelists yang banyak ditemukan di Amerika Serikat, sebuah negara barat.

Para pemikir liberal tersebut juga dianggap kebarat-baratan karena mereka belajar di universitas-universitas barat. Orang-orang yang memiliki anggapan tersebut tidak menyadari bahwa pendidikan Islam modern di negara-negara timur menggunakan model barat; universitas-universitas Islam di timur juga mau mengikuti hasil pertemuan-pertemuan Bologna Process. Gus Dur adalah lulusan Universitas Baghdad dan Quraish Shihab lulusan Universtas Al-Azhar di Kairo. Mereka belajar di perguruan tinggi Arab. Mengapa mereka tidak pernah dicap sebagai ke-Arab-Araban?

Selain dianggap kebarat-baratan, para pemikir liberal tersebut juga dianggap sekuler, walaupun mereka selalu menonjolkan identitas agama mereka, sering melakukan ceremah-ceramah yang sangat berbau agama dan mengajar di perguruan tinggi Islam. Lagi pula, apa kita bisa menjamin bahwa para penentang Islam liberal rajin shalat lima waktu, berzakat, berpuasa setiap Ramadhan, tidak meminum miras dan tidak melakukan hubungan seks di luar nikah?

Citra-citra yang dipaparkan Syahrin Harahap, walaupun mengacu pada orang-orang asing, juga sangatlah lumrah di masyarakat Indonesia. Kita masih suka memberikan cap-cap hitam-putih terhadap sesama, tanpa menyadari bahwa manusia jauh lebih rumit dari pada yang kita ingin bayangkan. Saya juga merasa bahwa Syahrin Harahap menggunakan pendekatan yang salah terhadap permasalahan ini.

Saya menghargai bahwa beliau mau mengakui bahwa umat Islam memiliki masalah dengan fundamentalisme. Tetapi, pada saat yang bersamaan, beliau juga terkesan menyalahkan munculnya fundamentalisme kepada kekuatan dari luar umat dengan mengatakan bahwa Islam adalah agama yang penuh kedamaian.

Sebagai seorang Muslim, saya juga ingin percaya itu. Tetapi, pada kenyataannya, orang-orang beraliran keras tersebut sepenuhnya yakin bahwa paham mereka sesuai dengan ajaran agama. Kita harus menerima kemungkinan bahwa agama yang kita cintai sangatlah jauh dari sempurna.

Saya setuju dengan usulan beliau bahwa penyelesaian masalah aliran garis keras ini dapat dihadapi dengan mengajari para siswa ilmu kajian globalisasi (p. 43). Memang betul bahwa aliran tersebut lahir di luar Indonesia dan menyebar dari satu negara ke negara lainnya. Tetapi, ilmu tersebut tidak mencakup tentang cara penyebarluasan aliran tersebut di satu tempat.

Saya mengusulkan agar umat Islam di Indonesia, termasuk kalangan moderat, untuk bermawas diri tentang cara kita menafsirkan ajaran-ajaran agama dan cara kita memerlakukan orang lain, terutama yang berbeda pandangan. Walaupun kalangan moderat memang tidak pernah menghasut kekerasan dan diskriminasi, kecenderungan mereka untuk mengkafirkan kalangan liberal dan tidak mengakui Islam sebagai ilham aliran keras sudah memberikan dampak buruk yang jelas-jelas sudah bermunculan dan mungkin akan berkepanjangan.

Suka atau tidak, kalangan moderat secara tidak langsung juga bertanggung jawab atas ketidakadilan yang dialami Ahok.

 

Badan Pusat Statistik 2010, Hasil sensus penduduk 2010: kewarganegaraan, suku bangsa, agama dan bahasa sehari-sehari penduduk Indonesia, BPS, Jakarta.

Badan Pusat Statistik 2014, Statistik Indonesia 2016, BPS, Jakarta.

Badan Pusat Statistik 2015, Statistik Indonesia 2015, BPS, Jakarta.

Badan Pusat Statistik 2016, Statistik Indonesia 2016, BPS, Jakarta.

Harahap, S 2016, ‘The image of Indonesia in the world: an interreligious perspective’, The IUP journal of international relations, vol. 10, no. 2, pp. 30-44.

Saluz, CN 2009, ‘Youth and pop culture in Indonesian Islam’, Studia Islamika, vol. 16. no. 2, pp. 215-242.

Author: The Stammering Dunce

I write blogs. I love to act smarter than I really am and I pretend that my opinions are of any significance. Support me on Patreon: https://www.patreon.com/user?u=9674796

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: